"Baiklah, kita harus segera pergi dari sini. Aku menemukan rombongan dari kota di depan sana," ujar Lynx, menunjuk ke sebuah arah—tempat di mana Jelita sebelumnya dibawa lari oleh pria bercadar.

Tanpa menoleh ke mayat yang tergeletak di belakang mereka, keduanya segera bergegas, melanjutkan perjalanan menuju tempat Komandan Jiang berada.

Lynx berlari dengan cepat, tetapi ia segera menyadari bahwa Jelita tertinggal jauh di belakangnya. Dengan tingkat kultivasi yang berbeda, jelas Jelita tidak bisa menyamai kecepatannya.

"Jika seperti ini, bisa terlambat sampai ketempat itu." batin Lynx dengan perasaan khawatir, mengingat komandan Jiang sedang terluka, dan lawannya ada banyak. Saat itu, Lynx sengaja memindahkan pimpinan Gao Qiang dan anak buahnya yang memiliki kekuatan tinggi, agar komandan Jiang dan yang lainnya tidak melihat pertarungan mereka, dan Lynx berpikir seharusnya komandan Jiang bisa menghadapi sisanya, namun dia tetap merasa agak khawatir, karena dunia kultivasi memiliki banyak trik, bukan hanya sekedar kekuatan.

Tanpa banyak bicara, ia mengulurkan energinya dan mulai mengalirkannya perlahan ke tubuh Jelita.

Jelita, yang awalnya merasa berat dan sulit mengejar Lynx, tiba-tiba merasakan tubuhnya menjadi jauh lebih ringan.

Matanya melebar. "Apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba bisa berlari lebih cepat?" tanyanya, meskipun tetap fokus melangkah.

Lynx meliriknya sekilas dan tersenyum kecil. "Aku membantu mengalirkan sedikit energi ke tubuhmu agar lebih ringan," jawabnya santai. "Selain itu, aku juga sedikit menarikmu dengan kekuatanku. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuatmu bisa mengimbangiku."

Jelita menatapnya sejenak sebelum menghela napas. "Dunia para kultivator memang luar biasa… tetapi juga membingungkan," gumamnya dalam hati.

Beberapa saat kemudian, ia kembali bertanya, "Xiao Ling, apakah kamu yakin masih bisa mengetahui posisi mereka?"

Lynx menatap lurus ke depan. "Kita sudah dekat. Kita bisa mencoba berkenalan dengan mereka dan mencari informasi mengenai suku kita, tetapi hati-hatilah, jangan mudah percaya dengan seseorang yang baru kita kenal."

Jelita mengangguk, tak bertanya lebih jauh.

Begitu mereka tiba, Lynx langsung mengenali dua sosok di depan mereka.

Li Wei sudah berada di sana bersama Komandan Jiang, sibuk memeriksa keadaan para prajurit yang terluka.

Namun, belum sempat Lynx mengatakan apa-apa—

"HEI, KAU!"

Suara nyaring Li Wei langsung menghantam telinganya.

Lynx mengerjapkan mata, bingung. "Hm?"

"Kau…! Dasar pemuda kurang ajar!" Li Wei melangkah cepat ke arahnya dengan wajah merah padam. "Akhirnya aku menemukanmu! Ke mana saja kau bersembunyi?!"

"Pemuda kurang ajar?" Batin Jelita dan komandan Jiang. Mereka memandang Lynx dan Jelita bergantian dengan tatapan heran.

Lynx merasa serba salah dan tidak nyaman dengan tuduhan yang diberikannya, terutama di depan Jelita. "Kenapa kau menyebutku begitu? Apa yang sudah aku lakukan padamu? Aku hanya..."

Belum selesai Lynx berbicara, Li Wei segera berlari dan menutup mulut Lynx dengan tangannya.

Lynx yang tidak merasakan niat jahat dari Li Wei hanya terdiam, dia tidak menduga, gadis itu akan menutup mulutnya seperti itu.

Jelita dan Komandan Jiang Rui, terdiam kebingungan.

"Apalagi ulah nona muda kali ini?" batin komandan Jiang. Dia sudah tidak heran dengan sikap Li Wei yang seringkali bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.

Jelita sendiri menatap Lynx dan Li Wei dengan perasaan aneh. "Apa yang sudah kepala suku lakukan padanya? Dia… cantik," batinnya dengan perasaan tidak nyaman. Ada rasa nyeri yang muncul di hatinya tanpa alasan yang jelas.

"Hem..Hem...." Komandan Jiang batuk ringan. "Nona Li, siapa mereka? Kamu belum memperkenalkan kami."

Li Wei yang baru sadar dengan apa yang ia lakukan langsung menarik tangannya dengan sedikit canggung. Ia melotot tajam ke arah Lynx. "Awas kau! Jaga bicaramu!" ancamnya dengan suara rendah.

Lynx menahan senyum, sudah menduga ini akan terjadi jika berhadapan lagi dengan wanita muda di depannya.

Li Wei mendengus, sadar bahwa ia bahkan tidak tahu nama pemuda yang telah menolongnya. Lebih parah lagi, bukannya mengucapkan terima kasih, ia malah menyerangnya.

"Aku... Aku..." Li Wei kebingungan memperkenalkan pemuda dihadapannya.

Lynx yang menyadari sikap Li Wei segera memperkenalkan diri ,"Saya Xiao Ling, dan ini teman perjalanan saya, Yun Qing."

"Ya… ya… namanya Xiao Ling, aku mengingatnya sekarang," kata Li Wei cepat, berusaha menutupi rasa malunya.

Komandan Jiang hanya tersenyum, sementara Jelita merasa pedih hatinya mendengar kata: Teman Perjalanan. Namun, dia berusaha tetap tersenyum.

"Apakah tuan Xiao yang sudah menyelamatkan nona Li Wei?" Komandan Liang yang berpengalaman dan cerdas segera menanyakan dugaannya.

Lynx tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Hanya kebetulan kami lewat dan melihatnya di tahan oleh dua orang. Melihat ada kesempatan, saya langsung memberanikan diri menolongnya."

Li Wei tiba-tiba menimpali, "Menolong? Hah! Dasar pria mesum!"

Komandan Liang memandang Li Wei dengan bingung. Dan wajahnya beralih ke arah Lynx dengan tatapan curiga.

"Anda salah paham, saya hanya... aduh..." tiba-tiba saja kaki Lynx ditendang oleh Li Wei, matanya terlihat menatap Lynx dengan penuh ancaman.

Lynx hanya menatapnya dengan ekspresi datar, sementara gadis itu masih memandangnya dengan penuh ancaman.

Li Wei melangkah mendekat dan berbisik dengan nada rendah. "Awas kalau kau berani bilang ke siapa pun kalau kau menggendongku seperti karung beras!"

Lynx akhirnya tidak bisa menahan senyumnya.

"Eh, aku menyelamatkanmu, kan?" katanya santai.

Li Wei menggeram. "Itu bukan alasan!"

Komandan Jiang menatap mereka berdua dengan bingung, tapi memilih tidak ikut campur.

Li Wei masih melotot. "Dan satu lagi! Kau berangkat lebih dulu dariku, kenapa baru sampai sekarang? Seharusnya kau lebih dulu menemui paman Jiang!"

Lynx menggaruk kepalanya, pura-pura canggung. "Uh… aku tersesat?"

Li Wei nyaris tersedak mendengarnya. "TERSESAT?!"

Lynx mengangkat bahu santai.

Komandan Jiang menghela napas. "Li Wei, sudahlah. Yang penting kita semua selamat," katanya menenangkan.

Li Wei mendengus, tapi tetap terlihat tidak terima.

Setelah menarik napas panjang, ia berbalik ke arah Komandan Jiang. "Paman bener, walau bagaimanapun pemuda ini sudah menyelamatkanku."

Komandan Jiang menatap Lynx dengan lebih serius dam bertanya, "Tuan Xiao, apakah kau tahu apa yang terjadi? Gao Qian mendadak hilang tanpa jejak."

Lynx berpikir sejenak sebelum menggeleng. "Anda bisa memanggil saya langsung dengan nama Xiao Ling, komandan Jiang. Mengenai mereka, saya tidak tahu. Setelah menyelamatkan nona Li Wei, saya tersesat dan segera mencari Yun Qing. Kami baru sampai ke sini."

Ia sengaja tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Gao Qian ataupun Jelita.

Jelita, yang sejak tadi diam, melirik Lynx sekilas. Ia menyadari bahwa pemuda ini memang tidak suka mengungkapkan kekuatannya.

Maka, ia memilih untuk ikut diam.

"Jadi kamu mengenaliku?" tanya komandan Jiang dengan nada menyelidik.

"Saya sudah bersembunyi di tempat ini cukup lama dan mendengar mereka menyebut anda komandan Jiang dan juga tentang putri walikota, nona Li Wei." Jawab Lynx.

Komandan Jiang menatap mereka berdua dengan tatapan penuh selidik. Namun, setelah memeriksa energi mereka, ia mendapati bahwa mereka berdua hanya berada di Forging Qi tingkat pertama.

Kecurigaannya perlahan menghilang.

"Benar, nona Li Wei adalah putri dari walikota kota Huoling. Dan saya sendiri, Jiang Rui, pengawal yang bertugas menjaganya." jawab komandan Jiang."Tapi saya harap anda bisa menjaga rahasia ini. Tidak banyak yang mengenali wajah nona Li Wei. Terutama tolong rahasiakan tentang kejadian penyerangan tadi. Saya tidak ingin terjadi keributan yang tidak perlu karena kajadian tadi."

Lynx dan Jelita menganggukkan kepalanya."Baiklah, kami kebetulan kami juga ada keperluan menuju kota Huoling. Kami akan merahasiakannya. "

Komandan Jiang merasa puas dengan jawaban yang diberikan Xiao Ling. Dia menilai, pemuda di hadapannya ini sebagai pemuda yang pemberani, tidak takut untuk menghadapi bahaya didepannya.

Tapi ada satu orang yang masih tidak puas—Li Wei.

Ia berkacak pinggang, menatap Lynx dengan penuh selidik. "Aku masih belum mengerti. Kau bilang tersesat, tapi bagaimana mungkin kau bisa lari secepat itu?"

Lynx tersenyum tipis. "Mungkin karena aku salah jalan dan kau tidak melihatku?"

